Di Grup WA Sudah Ribut, Di Lapangan Masih Sepi
![]() |
| Ilustrasi fenomena yang sering terjadi saat ini: diskusi sudah ramai di grup WhatsApp, tetapi ketika waktunya berkumpul di lapangan, yang hadir justru hanya sedikit. |
BUKITTINGGI, KABA LURUIH — Di zaman serba digital seperti sekarang, banyak hal bisa dimulai dari satu tempat yang kecil, tapi suaranya bisa terdengar sangat besar.
Namanya grup WhatsApp.
Di sana, diskusi bisa berlangsung cepat. Kadang bahkan terlalu cepat. Satu pesan masuk, lalu muncul balasan, disusul emoji, lalu panjanglah percakapan sampai puluhan bahkan ratusan pesan.
Topiknya juga beragam.
Mulai dari urusan kampung, kegiatan organisasi, rencana gotong royong, sampai perdebatan yang kadang membuat layar ponsel terasa lebih panas dari kopi di lapau.
Menariknya, ada satu fenomena yang mulai sering disadari banyak orang.
Di grup WA sudah ribut, di lapangan masih sepi.
Diskusi bisa panjang. Pendapat bisa bermacam-macam. Bahkan kadang keputusan terasa sudah hampir tercapai di ruang digital itu.
Namun ketika waktunya tiba untuk berkumpul langsung di lapangan, yang hadir justru bisa dihitung dengan jari.
Fenomena ini tentu tidak selalu terjadi, tetapi cukup sering menjadi bahan cerita di berbagai tempat.
Ada yang menyebutnya sebagai “semangat digital”. Ada juga yang hanya tertawa sambil berkata, mungkin sinyal di lapangan tidak sekuat di grup WA.
Padahal dalam tradisi masyarakat Minangkabau, kebersamaan tidak hanya hidup di percakapan, tetapi juga di pertemuan langsung.
Dari rapat nagari, gotong royong, hingga diskusi santai di lapau, semuanya selalu mengandalkan satu hal: hadir bersama.
Teknologi memang memudahkan komunikasi.
Namun pada akhirnya, banyak hal tetap membutuhkan kehadiran nyata.
Sebab di luar layar ponsel, kehidupan tetap berjalan seperti biasa.
Dan mungkin di situlah kita kembali diingatkan bahwa kadang suara paling penting bukan hanya yang ramai di grup, tetapi yang benar-benar hadir di lapangan.
Kaba Luruih- Indak Manih, Tapi Bana.
